Selasa, 25 Mei 2010

Bercakap dengan seorang pengamen kecil...

Malam ini ada satu penggal cerita yang sedikit berbeda dari rutinitas biasanya. Biasanya seusai jam kerja disekolah, sore hariku berlanjut dengan menemani anak-anak lesku belajar, tapi sore tadi agak berbeda. Sesi pertamaku kuliburkan karena suatu kepentingan yang kurencanakan tapi batal kujalankan. Sedang sesi kedua juga terlewati karena hujan mengguyur, meski tak terlalu deras tapi cukup bisa membuatku kuyup andai kupaksakan pergi. Sementara jarak pulangku nanti cukup jauh dan makan waktu. Ada rasa bersalah sempat menggelitik karena mengabaikan tanggung jawab (karena tepat jam 5 waktu les sesi 2 dimulai hujan sudah berhenti tapi aku sudah memutuskan tuk tak datang). Sahabatku bahkan menertawakanku karena rasa yang sempat hinggap itu , 'Memang tadi hujan kan, itu artinya dikau tak bohong heheheh....', ujarnya seraya meledekku.
Sekitar jam 5.15 kami keluar dari sekolah dan aku mengajaknya tuk jalan kaki aja, mengulang masa-masa kemarin saat waktuku tidak terlalu padat. Jadilah kami menyusuri gang di Tebet Timur melewati rumah dari anak didikku dulu, sekalian tengok baby Fathur kalau kebetulan mereka tidak pergi. Alhamdulillah, ternyata saat kami ucap salam...pintu depan terbuka, Kinanti yang keluar lebih dahulu. Jadilah kami berdua mampir, tengok baby Fathur (adik Kinan & Dinda), sekalian numpang shalat Magrib. Usai shalat, kami pamit pulang .....dan masih tetap dengan berjalan kaki sampai perempatan Warmo. Laras meneruskan ke kostnya yang tidak jauh dari situ, sedang aku setia menunggu jemputanku....metromini 68 atau 612 hehehehe....
Disinilah cerita ini bermula.
Aku berdiri dipinggir jalan dan didekatku berdiri seorang gadis kecil pengamen. Sendirian. Berulang kali ia melirikku dan senyum-senyum seraya mengayunkan badannya ke kiri kanan dengan berpegangan pada tiang listrik. Akhirnya setelah beberapa menit berlalu dan metro yang kutunggu blm datang jua...terjadilah percakapan itu...
"Haloo....sendiri ya?," tanyaku memulai.
"Iya.."
"Kok ngga ada temennya?"
Gadis cilik itu kembali senyum-senyum.
"Tiap hari juga ngamen sendiri kok"
Aku manggut-manggut. "Tidak takut?"
Matanya berkerjap-kerjap "Engga-lah...kan rame"
"Trus ini kan udah mulai malem, ngga pulang?"
"Kan mulainya udah sore, nanti pulangnya jam 11-an"
Gubrakkkkk......walah, jam 11 baru pulang? Anak kecil, perempuan, sendirian,...pulang jam 11? Wah wah...sulit dibayangkan.
"Trus nanti dijemput gitu?"
Lha,...kok ia menggeleng. Tambah takjublah aku.
"Beneran ngga takut?"
Ia menggeleng lagi sambil cekikikan.
Aku jadi inget kalo masih simpan satu roti dalam tasku "Mau roti ngga? Rasa cokelat, enak lho"
"Ngga ah...masih kenyang"
Ehm, ....bagus juga anak ini cukup berhati-hati untuk tidak gampang menerima sesuatu dari orang yang baru ia kenal.
"Ngga papa kok, ini enak ....buat kamu aja ya, siapa tahu malem-malem nanti lapar"
Setelah aku bujuk akhirnya ia mau menerima roti itu dan menyimpannya didalam tasnya.
"Ayah ibunya ada?"
Ia mengangguk.
"Punya saudara?"
"2 kakak, 2 adik dan 1 bayi"
Whaaaa..... banyak kali.
"Kakaknya dimana? Kerja atau masih sekolah?"
"Yang perempuan masih SMA, yang laki-laki kerja di poster"
Nah, yang ini aku ngga mudeng....kerja diposter itu apa, apa nempelin poster2 dijalanan atau ditukang poster.
"Mamahnya kerja apa?"
"Ngga tahu"
Lha????
"Ayahnya tapi kerja kan?"
Ia ketawa ngikik "Bapak jaga adik bayi"
Lho?????
"Jadi ngga kerja?"
"Dulu dagang mie ayam, tapi banyak yang ngutang ngga bayar. Jadi modal mienya abis...ngga kerja lagi sampai sekarang"
Oooooooooooooooo.....
"Kamu ngamen disuruh apa mau sendiri sih?"
"Mau sendiri sih.........."
Tp kok sihhh-nya terdengar nggantung gitu ya...
"Umur kamu berapa sih?"
"Tujuh tahun"
"Kalau ngamen malem-malem trus pulang jam 11, kapan sekolahnya dong?"
"Udah berhenti, kelas 1 kemarin"
"Ngga pengen sekolah lagi? Kan SD masih gratis, ngga bayar"
"Nanti kalo bapak dah kerja lagi"
Kok hatiku jadi sedih ya.....
"Tapi pengen pinter kan?"
Ia ngangguk
"Kalo ngamen sehari bisa dapat berapa?"
Dengan fasih ia jawab "Kalo rame bisa 80, kalo sepi cuma 30"
Whaa.....lumayan juga, tp juga lumayan menyita waktu & tenaganya buat naik turun angkot. Ehm, masih kecil kalau soal uang kok pinter banget ya ngitungnya...... (karena terbiasa kali ya..)
"Kalo laper trus gimana, jajan diwarung gitu?"
"Ya ditahan-tahanin, dibiasa-biasa-in. Kalo berangkat ngamennya pagi, jam 11 pulang buat makan"
Duhhhh....
"Memang rumahnya deket?"
"Itu.....di Prumpung"
"Oh, deket pasar mainan itu"
Ia mengangguk.
"Tapi sekarang pindah deket kampung Sayur"
Dahiku berkerut. Dimana kampung Sayur itu? Kok baru dengar ya...
"Itu lho, yang deket kampung melayu, belok trus lurusssss.."
"Ada yang pernah jahat sama kamu ngga?"
Ia mikir sesaat "waktu itu aku disuruh ngikutin orang, laki-laki naik sepeda"
"Trus kamu ikutin gitu?"
"Iya, tapi pas udah jauhan.........aku buru-buru lari, takut diculik"
"Jangan,....jangan gampang percaya orang asing ya....apalagi disuruh ikut, jangan mau"
"Iya, aku juga takut"
"Bagus.....
"Mbak nungguin bis ya, mau ke Melayu?" Aku ngangguk.
"Naik 68 dong. Ehm,..hujan biasanya penuh. Nanti ada lagi malem-malem"
Dia hapal ya hilir mudiknya angkutan....
Jadilah kami ngobrol panjang lebar selama aku menunggu metromini langgananku. Hmmm, sayangnya aku keasyikan tanya-tanya sampai lupa nanya siapa namanya. Pas inget mau nanya, ia sudah lebih dulu turun dan berlari menjauh.
Tuhan,.....kok masih banyak anak-anak yang harus melewati masa kecilnya dengan kehidupan seperti ini ya. Sedih, kenapa mereka-mereka yang memiliki anak tega membiarkan anak-anaknya berkeliaran dijalan dikelilingi berbagai macam bahaya yang tak terduga. Sungguh mereka ini sangat rentan akan kejahatan. Alasan kesulitan hidup rasanya tak pantas dikemukakan. Mereka berani memiliki anak, seharusnya mereka berani memperjuangkan kehidupan dan kesejahteraan anak-anak itu. Banyak contoh kok kesuksesan bisa diraih dari mereka-mereka yang hidupnya pas-pasan. Segala sesuatu kembali ke niat, keinginan, doa & usaha yang sungguh-sungguh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar